Minggu, 24 Juli 2016

Perlahan atau Tidak Sama Sekali

Seorang akhwat berbisik padaku, ketika kami berdua hendak melaksanakan sholat Maghrib berjama'ah.

U. P: "... uhm... doakan ane ukht, semoga ketika balik ke kampung halaman ana tetap Istiqomah."
U. I: "InsyaAllah. Kita saling mendoakan yak! HIJRAH itu dilakukan secara perlahan, tetapi mantap, daripada tidak sama sekali."

________________

Tahukah kau wahai sahabat? di dunia ini tidak ada yang lebih baik dari seorang sahabat yang saling mengingatkan dalam kebaikan. Saling berlomba-lomba dalam menggapai keridhaan menuju ketakwaan. Sebagaimana dikutip Hamka, "keutamaan itu ialah membiasakan berbuat BAIK" (Aristoteles). Dalam al-Qur'an terlebih dahulu melukiskan bagaimana manusia itu, yaitu bahwa manusia itu dalam keadaan kerugian kecuali "Mereka saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran." (al-Asr:1-3)

Betapa indahnya hidup apabila kita dapat memberikan sedikit saja cahaya kita kepada orang lain. Tidak ada salahnya berbagi cahaya. Toh cahaya itu adalah pemberian Allah kepada kita, agar kita memberikannya juga kepada orang lain. Berbagi pemberian nikmat bukan untuk menikmatinya secara sendiri saja.




Senin, 27 Juni 2016

KT. Epi. 2 "Perjalanan Merenda Iman"

Pagi, cinta
Kudekap embunan sejuk dalam secarik lamunan
Kubungkus karena sejuknya tak berkehabisan
Sisa tenaga semalam masih bisa kugunakan
Sedikit saja berbagi dalam telaga kedamaian

๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพkepompong tarbiyah

Ketika cahaya-cahaya menyilaukan itu di padamkan, seluruh ruangan menjadi temaram. Kebetulan aku berada pada saf pertengahan, paling kanan dari sisi Imam dibariasan jama'ah perempuan.
Seluruh jama'ah merapatkan barisan dalam gelap
Kulirik semua jama'ah telah bersedekap, aku menyusul mengangkat kedua tanganku, berserah pada Sang Pemilik hening malam.

Baru saja Imam melantunkan beberapa baris ayat-ayat dari al-Qur'an di tengah heningnya malam, suara tangis bayi memecah keping kekhusyu'an. Dari sudut kiri terlintas bayang seorang Ibu menunduk dan mengangkat bayinya. Aku berusaha memusatkan perhatianku pada bacaan ayat al-Qur'an yang dilantunkan sang Imam.

Tp... kenapa hatiku malah berdesir? "Tuh lihat! Perjuangan ibu yang ingin bermesra dengan Tuhannya. Harus berdiri menggendong bayi, rukuk dan sujudnya dalam keadaan kepayahan karena harus menenangkan si buah hati yang berada dalam dekapan."

Pandanganku mengabur, hatiku bergemuruh. Akhirnya, aku merasakan ada yang hangat melewati kedua pipiku. Melipir dan terjatuh ke mukena.

"Rabbana... ingin aku menjumpai-Mu dalam khusyu', mesra setiap waktu, selamanya. Menghamba dalam keadaan senang dan susah."

______
Episode ini adalah satu diantara episode yang Allah suguhkan. Mungkin banyak diantaranya yang tidak menghirukan, tapi... bagiku ini sebuah tamparan.

@setelah qiyamul lail dan ta'lim yang disampaikan seorang kandidat Doktor UIN MALIKI usai seluruh jama'ah mengantri.

Coba tebak buat ngantri apaan?

Nah... itu bener. ๐Ÿœ๐Ÿœ๐ŸœSahur Gratis
Disela-sela mengantri ada pemandangan aneh lagi. MasyaAllah. Tadi malam seperti kado terindah deh.

Tebak ane ketemu siapa?

Ane ketemu anak kecil. Kecil banget. Lagi ngantri. Masih terus ane amati dan perlahan ane memanggil namanya. "Fariin."
Si anak kecil menoleh dan benarlah ternyata itu si Farin.

Masih ingat kan yak? Noh anak kecil yang ikutan ngafal Qur'an bareng kite-kite. Hihi ada yang dari usianya kecil banget sampe yang usianya guedeee banget. Kayak ane. #ups ๐Ÿ˜ถ keceplosan

Wah...
Akhirnya ane sapa si Farin. Ia datang i'tikaf bersama Ibunya.

The end? I think... not yet. Coz Allah still have so much great story to us.

Saat sahur bareng hatiku kembali berbisik. "Rabb... dari kepayahan si Ibu tadi dan Farin yang ikut i'tikaf bareng Ibunya, menjadi pelajaran berharga untukku subuh ini dan selamanya. Bahwa kelak ketika aku melahirkan anak, maka sedini mungkin ku ajak dia untuk memuliakan Masjid. I'm promise."


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพKT_Indah

To all
Ana uhibbukunnafillah. ๐Ÿ˜Š SeMiQu: Hamilal Qur'an

Minggu, 26 Juni 2016

Kepompong Tarbiyah Ep. 1

Cinta, selamat menikmati babak final ini
10 hari terakhir di bulan yang diberkahi
10 hari terakhir memaksimalkan ibadah
10 hari terakhir kau harus peroleh gelar 'hamba takwa'

Cinta, tahukah kau apa yang ingin kuurai?
Semalam jemariku sempat kaku
Mendadak pilu seluruh getar-getar jiwaku
Denyut nadi tak hentinya menahan haru
Jiwaku, seketika tertawan
Dan dosa-dosaku seakan terhamparkan
Tepat. Tepat di hadapanku.

Aku hanya mampu menunduk, memohon ampun
Meratapi duniaku yang dulu kelam, berbalut lumpur
Kotor dan menjijikkan
Jangankan kau, aku sendiri saja enggan berteman dengan diriku sendiri
Entahlah... aku hanya bisa pasrah dan berserah
Pasrah dengan sebenar-benar pasrah
Berserah atas segala ketentuan-Nya

Lamat-lamat duniaku beralih
Secebis cahaya datang merengkuh jiwa
Gigil jiwa melepas jubah dosa
Pantaskah aku duduk bersama kalian?
Bening-bening yang melipir ke sudut mata, tertumpah
Aku, mengaku berdosa
Aku ikut mau-Mu, Rabbana

Aku bukanlah dari keluarga ahlus sunnah
Ilmu Agama hanya kudapati dari guru madrasah
Mengaji juga masih terbata-bata
Tapi, aku tetap mensyukurinya
Yang kuingat adalah tidak ada kata terlambat
Memaksakan lidahku untuk terus melafadzkan kalam-kalam-Nya
Menghapalkan beberapa surat pendek darinya (al-Qur'an)
Hingga aku terbiasa dan perlahan lidahku meliuk-liuk
Hanyut, melantunkan deret huruf-huruf hijaiyah yang berbuah pahala

Satu per satu titik cahaya menuntun jalan hidupku
Hingga aku dipertemukan pada sebuah persimpangan
Memilihnya, jalan keshalihan
Atau menurutinya, jalan yang tak kuketahui kesudahannya
Kini, aku hanya bisa meyakininya
Bahwa inilah jalan pilihan
Jalannya para pejuang
Jalan yang dirintis oleh Rasul qudwah alam

Menjadi ‘kepompong tarbiyah’
Itulah yang kurasa
Inilah perjalanan ‘kupu-kupu tarbiyah’
Jiwa-jiwa mereka ditempa dan raga mereka merenda rasa

Cinta, kuucap mesra padamu karena kutahu kau punya cinta yang sama pada-Nya
“Ana uhibbukumfillah”
Kita dipertemukan dan dipersatukan karena-Nya
Simpul-simpul ukhuwah telah terajut, menyatukan derap langkah kita
Bersama, bersama dalam ukhuwah

Sejenak, perih jiwa mengingati dosa sirna
Karena aku yakin, satu diantara kalian adalah orang-orang yang dicintai-Nya
Sehingga doa-doa kalian akan menggiring langkahku
Menuju sinaran kebenaran
Kedamaian dalam nafas Islam

Jazakumullah, karena mau mengenalku dan mencintaiku karena-Nya
Berharap kepingan episode ini tiada terhenti sampai di sini
Melainkan berkekalan hingga ke syurga
Jika kelak kau belum mendapatiku di syurga-Nya
Aku mohon, mintalah pada Rabb kita
Agar kita dipersatukan dalam syurga-Nya
Sebagaimana dahulu ketika di dunia, langkah kita pernah dipersatukan oleh-Nya.


Batu, 27 Juni 2016


 #thanks

Senin, 22 Februari 2016

Kau tahu ke mana harus Bersimpuh


Kau tahu apa yang menyebabkan manusia kehilangan keseimbangan dalam menjalani hidupnya? Kebanyakan manusia hanya menyibukkan dirinya dalam rutinitas duniawi. Mencari dan mencari pangkat. Menumpuk dan menumpuk harta hingga tak berbilang kekayaannya. Ingin terus dipandang sebagai hartawan dan lain sebagainya.

Jangan sampai kita menjadi manusia yang luput dari mensyukuri nikmat-Nya. Setiap hela nafas adalah nikmat. Setiap kedipan mata adalah nikmat. Setiap langkah adalah nikmat. Setiap rasa baik yang dirasakan oleh lidah ataupun hati juga nikmat.

Ketika senang adalah bentuk nikmat, maka ingatlah pada dzat yang memberikan nikmat. Ketika sulit menerpa-nerpa juga harus bersabar dan bertawakkal, semoga kesedihan yang dilalui dengan kesabaran akan berbuah kenikmatan.

Hidup ini singkat guys! Kalau ndak dinikmati senikmat mungkin, bisa saja nikmat yang paling nikmat setelah semua nikmat yang telah Tuhan berikan akan sirna. Di atas kenikmatan ada nikmat yang paling nikmat. Itu adalah rahmat-Nya. Syurga-Nya.

Kau tahulah ke mana harus bersimpuh. Tunduk dan sujud di hadapan-Nya. Saat senang dan saat susah.

________

Kau tahu ke mana harus pulang?

Jangan!
jangan kau cari Tuhan saat kau terkapar oleh derita
atau saat panasnya matahari menjilat-jilat ubunmu di kala siang menjelma

Jangan!
jangan kau temui Tuhan karena ada maunya
atau karena kesusahan sedang melanda 

Nikmat dari-Nya lebih banyak dari apa yang kau duga
Dia setia menjaga di saat kau lelap,
Dia kembali menghidupkanmu agar kau mau bersyukur

Hamba itu hidup menerima segala pemberian Tuhannya,
Agar lisan mengucap syukur tak henti-hentinya,
Menengadahkan tangan memohon ampunan-Nya,
Berbaik sangka atas takdir dari-Nya
dan Alam... 
akan setia membentangkan jalan kebaikan untukmu jua

Ah...
Manusia dengan sifatnya,
lalai - alpa
Kadang ingat Tuhannya,
kadang juga lupa
Lebih banyak lupa,
dari mengingat-ingat nikmat pemberian Tuhan-Nya

Wahai Tuhanku...
Aku ini hanya tulang berbalut daging
Berjalan di atas bumi dengan izin-Mu
Lalu aku khianati janjiku pada-Mu,
dulu

Dunia memang indah Tuhanku,
aku mengakui itu
Dunia menyilaukan pandanganku,
aku tergelincir,
rapuh ibadahku
Ingatan-ingatanku hanya tentang dunia dan seisinya

Duh,
Aku... jenuh
Dunia hanya menyuguhkan kesenangan semu,
aku terhunus oleh nafsu
Panah-panah racun merusak jiwa dan ragaku

Aku pasrah pada-Mu
Aku kembali berharap pada-Mu
Engkau benar Tuhanku
Dunia tak menjanjikan apapun untukku
Hanya Engkaulah, kepada-Mulah
Aku bersimpuh.

Batu, 23 Februari 2016
0.50 Am

____________________

My trip in Semarang, Masjid Agung Jawa Tengah.
Wisata rohani pembangkit semangat, peneguh jiwa sebagai hamba.








Sabtu, 06 Desember 2014

Hamba Media Sosial_Indah Suci

Remaja-remaja itu membujuk rayu seorang Ibu
Ia katakan padanya “Bu, aku ingin ini, aku ingin itu.”
Kata si Ibu, “Apa manfaatnya, nak?”
Si anak akan menjawab, “Manfaatnya ini, itu Bu.”
Beragam alasan ia kerahkan demi mewujudkan keinginannya itu.
Akhirnya si Ibu menuruti keinginan si anak.
Ini akibat pergaulan atau Ibu yang terlalu memanjakan?
Hari berganti hari
Minggu berganti bulan
Ketika si Ibu meminta si anak membuatkan segelas teh hangat
“... Ibu ambil saja sendiri.”
Air mata si Ibu mengalir.
Ini akibat pergaulan atau kelalaian?
Jemari-jemari itu asyik berselancar di dunia maya
Meng-up date status sampai meng-up load photo pribadi
Chatingan sampai tengah malam
Waktu shalat kebobolan
Lebih parahnya lagi sampai ada yang asyik menikmati
Tontonan yang tidak patut untuk di asumsi remaja saat ini.
Ini perbuatan siapa?
Sadarkan saat ini remaja-remaja Indonesia menjadi santapan lezat orang Barat
Menelusupi makanan ringan dengan racun yang mematikan
Menggerogoti kebudayaan menjadi sesuatu yang tertinggal zaman
Nilai kesopanan terabaikan
Menutup aurat dikenakan hukuman
Media tak ada yang memberikan nilai pelajaran
Semua hal menjadi ringan dan mengasyikkan
Hukum Islam tidak di utamakan
Bahkan lebih patuh pada aturan buatan makhluk yang diciptakan
Sadarkah kita?
Kita sedang berperang,
Walaupun pedang tidak di tangan,
Darah tidak berhamburan,
Mayat tidak berserakan.
Tapi, perang ini lebih besar.
Pemikiran kita yang sedang di serang.
Hampir setiap hari terdapat kasus asusila,
Guru mencabuli anak didiknya,
Cucu mencabuli neneknya,
Ayah membunuh anaknya,
Ibu mengubur anaknya karena malu tidak dapat menghidupinya.
Semua ini lebih gila dari pada hanya sekedar perang fisik.
Semua ini lebih gila.
Sadarkah kita?
Agh... aku tak mampu berbuat apa pun,
Marah? Sedih?
Pada siapa aku mengadu?
Sungguh baik Allah-ku, Dia menentramkan jiwaku, mendamaikan keluh kesahku,
Dia pancarkan cahaya di hatiku, mempertemukan aku dengan pejuang-pejuang zaman, mengajakku terus dan terus mencintai-Nya hingga akhir menutup mata.

Ringkasan KMS

Apa Bentuk Komitmen Saya Kepada Islam
Pengantar bagian pertama
Menjadi muslim yang baik tidak cukup dengan hanya mengandalkan faktor keturunan, identitas, atau penampilan luar. Untuk menjadi muslim sejati, kita harus memilih, berkomitmen, dan berinteraksi dengan islam dalam segenap aspek kehidupan.
Allah SWT berfirman:
(#rรŸ‰รŽg»y_ur ’รŽรป «!$# ¨,ym ¾รnรŠ$ygร…_ 4 uqรจd รถNรค38u;tFรด_$# $tBur Ÿ@yรจy_ รถ/รค3รธ‹n=tรฆ ’รŽรป รˆรปรฏรd‰9$# รด`รB 8ltym 4 s'©#รiB รถNรค3‹รŽ/r& zOŠรdยบtรถ/รŽ) 4 uqรจd รฃNรค39£Jy™ tรปรผรJรŽ=รณ¡รŸJรธ9$# `รB รฃ@รถ6s% ’รŽรปur #x‹»yd tbqรค3u‹ร9 รฃAqรŸ™§9$# #´‰‹รŽgx© รถ/รค3รธ‹n=tรฆ (#qรงRqรค3s?ur uรค!#y‰pkร ­ ’n?tรฃ ร„¨$¨Z9$# 4 (#qรŸJŠร%r'sรน no4qn=¢ร9$# (#qรจ?#uรคur no4qx.¨“9$# (#qรŸJร…รtGรดรฃ$#ur «!$$รŽ/ uqรจd รณOรค39s9รถqtB ( zN÷รจรYsรน 4’n<รถqyJรธ9$# zO÷รจรRur รงŽร…ร¨Z9$# ร‡รร‘รˆ
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) Telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu[1], dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. dia adalah Pelindungmu, Maka dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.
Dari ayat di atas dapat terlihat sifat-sifat paling signifikan yang harus dimiliki oleh setiap muslim agar pilihan dalam hidupnya menjadi seorang muslim benar, tulus dan lurus. Mendirikan shalat, menunaikan zakat dan berpeganglah kepada tali Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

·         Saya Harus Mengislamkan Aqidah Saya
Syarat pertama untuk menjadi muslim yang baik adalah memiliki aqidah yang benar dan lurus, sesuai dengan arahan al-Qur’an dan Sunah Rasulullah saw. beriman kepada apa yang diimani oleh generasi muslim pertama, yakni generasi salaf shalih dan para pemuka agama yang diakui kualitas kebaikan, ketakwaan, dan pemahamannya yang benar atas agama Allah ‘Azza wa Jalla.
Agar menjadi muslim sejati dalam beraqidah, ada beberapa tuntutan yang harus dilaksanakan.
·         Percaya (beriman) bahwa pencipta alam raya ini adalah Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Maha Hidup. Sebagai bukti, alam ini bergerak dengan sebuah sistem yang sangat baik, teliti, dan rapi. Allah Swt berfirman:
รถqs9 tb%x. !$yJรkŽรรน รฎpolรŽ;#uรค žwรŽ) ยช!$# $s?y‰|¡xรฟs9 4 z`»ysรถ6ร¡sรน «!$# ร‰b>u‘ ร„¸รถyรจรธ9$# $£Jtรฃ tbqร รฟร…รtƒ 
“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu Telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai 'Arsy daripada apa yang mereka sifatkan.”
·         Percaya (beriman) bahwa Allah yang Maha Tinggi tidak menciptakan alam raya ini secara main-main dan tanpa tujuan, karena Dzat yang memiliki sifat yang Maha Sempurna tidak pantas menciptakan sesuatu dengan main-main. Allah Swt berfirman:
รณOรงFรถ7ร…¡yssรนr& $yJ¯Rr& รถNรค3»oYรธ)n=yz $ZWt7tรฃ รถNรค3¯Rr&ur $uZรธŠs9รŽ) Ÿw tbqรฃรจy_รถรจ? ร‡รŠรŠรŽรˆ
 ’n?»yรจtGsรน ยช!$# ร 7รŽ=yJรธ9$# ‘,ysรธ9$# ( Iw tm»s9รŽ) žwรŽ) uqรจd >u‘ ร„¸รถyรจรธ9$# ร‰OƒรŒx6รธ9$# ร‡รŠรŠรรˆ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.”
·         Percaya (beriman) bahwa Allah Swt. telah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab suci sebagai sarana agar manusia mengenal-Nya sekaligus menjelaskan tujuan penciptaan diri mereka, asal-usul, dan tempat kembali mereka. Rasul terakhir yang diutus oleh-Nya adalah Muhammad Saw. yang kedudukannya diperkuat dalam al-Qur’an:
รด‰s)s9ur $uZ÷Wyรจt/ ’รŽรป รˆe@ร 2 7p¨Bรฉ& »wqรŸ™§‘ ร‚cr& (#rรŸ‰รง6รดรฃ$# ©!$# (#qรง7ร^tGรด_$#ur |Nqรครณ»©รœ9$# ( NรŸg÷YรJsรน รด`¨B “y‰yd ยช!$# NรŸg÷YรBur รฏร†¨B รดM¤)ym รmรธ‹n=tรฃ รค's#»n=žร’9$# 4 (#rรงŽร…¡sรน ’รŽรป ร‡รšรถ‘F{$# (#rรฃรร R$$sรน y#รธ‹x. šc%x. รจpt7ร‰)»tรฃ šรบรผรŽ/ร‰j‹s3รŸJรธ9$# ร‡รŒรรˆ
“Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut[2] itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”
·         Percaya (beriman) bahwa tujuan dari keberadaan manusia di dunia adalah mengenal Allah ‘Azza wa Jalla dengan sifat-sidfat yang diterangkan langsung oleh-Nya. Juga agar manusia taat dan menyembah-Nya.
$tBur ร Mรธ)n=yz £`ร…gรธ:$# }§RM}$#ur žwรŽ) รˆbrรŸ‰รง7÷รจu‹ร9 ร‡รŽรรˆ !$tB รŸ‰ƒร‘รฉ& Nรฅk÷]รB `รiB 5-รธ—รh‘ !$tBur รŸ‰ƒร‘รฉ& br& รˆbqรŸJรรจรดรœรฃƒ ร‡รŽรรˆ ¨bรŽ) ©!$# uqรจd รค-#¨—§9$# rรจŒ รo§qร )รธ9$# รŸรปรผรGyJรธ9$# ร‡รŽร‘รˆ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
·         Percaya (beriman) bahwa orang mukmin yang taat akan mendapat balasan surga dan orang kafir yang bermaksiat akan mendapat balasan neraka.
×,ƒรŒsรน ’รŽรป รp¨Ypgรธ:$# ×,ƒรŒsรนur ’รŽรป รŽŽรรจ¡¡9$# ร‡รรˆ
“... segolongan masuk surga, dan segolongan masuk jahannam.”
·         Percaya (beriman) bahwa manusia melakukan amal yang baik dan buruk dengan pilihan dan kehendaknya sendiri. Namun, ia tidak bisa berbuat baik kecuali karena petunjuk dan pertolongan Allah. Dan manusia terjerumus dalam kejahatan bukan karena Allah, melainkan hanya dalam batas kehendak-Nya. (Asy-Syams:7-10) dan (al-Muddatstsir: 38)
·         Percaya (beriman) bahwa hanya Allah yang berhak membuat hukum dan siapa pun tidak boleh melanggarnya. Ulama muslim boleh berijtihad untuk menentukan suatu hukum dalam kerangka prinsip-prinsip syariat yang ditetapkan oleh Allah. (asy-Syura: 10)
·         Berusaha mengenal Allah dengan mengetahui nama-nama dan sifat-sifat yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Abu Hurairah ra. meriwayatkkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya, Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Siapa pun yang menghafalnya maka akan masuk surga. Allah adalah tunggal dan Dia menyukai (bilangan) yang ganjil.
·         Berusaha memikirkan makhluk Allah dan tidak memikrkan Dzat-Nya, seperti dianjurkan oleh Rasulullah saw., “Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang (Dzat) Allah, karena sesungguhnya, kamu tidak akan mampu mengukur-Nya.”
·         Mengenai sifat-sifat Allah swt., banyak ayat al-Qur’anul Karim yang menyebutnya sesuai dengan kesempurnaan Allah swt. ada yang menjelaskan keberadaan (wujud) Allah swt. Ada yang menerangkan sifat baqa’ (kekal) dan qidam (keazalian) Allah. Ada yang menunjukkan kepastian perbedaan Allah dengan makhluk ciptaan-Nya dan menyucikannya dari anak, orang tua, sesuatu yang serupa dan setara dengan-Nya. Ada yang menjelaskan independensi atau keridaktergantungan Allah dengan makhluk-Nya, namun sebaliknya, makhluk menggantungkan segala kebutuhannya kepada Allah.
·         Yakin bahwa pendapat generasi salaf lebih layak diikuti untuk menyelesaikan masalah ta’wil dan ta’thil (menafikan sifat-sifat Allah), dan menyerahkan pengetahuan atas makna sifat-sifat tersebut kepada Allah swt. Di sisi lain, interpretasi yang dilakukan kaum khalaf atas makna sifat-sifat tersebut tidak dapat dijadikan alasan untuk mengkafirkan atau menuduh mereka fasik. Tidak pula membenarkan perselisihan panjang yang terjadi di antara mereka dan orang-orang yang bertentangan dengannya, baik di masa lalu maupun sekarang.
·         Harus menyembah Allah swt. dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun. Ini merupakan bukti memenuhi panggilan Allah yang disampaikan melalui risalah-risalah para Rasul karena Allah menyeru mereka agar menyembah-Nya semata dan melarang mereka tunduk kepada siapa pun, selain kepada-Nya. (an-Nahl: 36)
·         Hanya takut kepada Allah dan tidak pernah takut kepada apa pun selain dari-Nya. Lalu rasa takut itu menjadi motivasi yang mendorong agar menjauhi segala sesuatu yang dimurkai dan diharamkan oleh Allah. (an-Nur: 52)
·         Selalu mengingat Allah dan senantiasa berzikir kepada-Nya. Diam menjadi wahana berpikir dan bicara menjadi momentum berzikir. Zikir kepada Allah adalah obat jiwa yang paling manjur dan senjata yang paling ampuh untuk menghadapi berbagai tantangan zaman dan persoalan hidup. Allah berfirman dalam (ar-Ra’d: 28) dan (az-Zukhruf: 36-37).
Dr. Bril mengatakan, “Orang yang benar-benar taat beragama tidak pernah menderita sakit jiwa.” Jadi dapat di simpulkan bahwa dengan zikir kondisi hati akan stabil.
ร˜  Cinta kepada Allah yang membuat diri semakin rindu kepada keagungan-Nya dan hati mereka terpaut dengan-Nya, sehingga terus memotivasi mereka melakukan perbuatan yang baik dan memicu semangat berkorban serta berjihad di jalan-Nya. (at-Taubah: 24)
Juga sebagai sarana merasakan manisnya Iman yang disinyalir oleh Rasulullah saw. dalam sabdanya: “Ada tiga perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang, maka dia telah merasakan manisnya iman. Tiga perkara itu adalah dia lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada yang lain; mencintai orang lain hanya karena Allah; dan tidak suka kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka jika dilemparkan ke dalam api.”
ร˜  Bertawakal kepada Allah dalam segala urusan dan menyerahkannya kepada Allah. Sikap ini akan menumbuhkan kekuatan dan semangat dalam diri sehingga seberat apa pun kesulitan yang dihadapi akan tetap diarungi. (ath-Thalaq: 3)
Dalam sebuah pesan yang sangat mengesankan, Rasulullah saw. bersabda, “Peliharalah Allah, maka Allah akan memeliharamu. Peliharalah Allah, maka kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila kamu memohon, maka mohonlah kepada Allah. Apabila kamu meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya, seandainya seluruh manusia sepakat untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan bisa memberinya kecuali sebatas yang telah ditetapkan oleh Allah untukmu. Dan sebaliknya, seandainya mereka sepakat untuk mencelakaimu, maka mereka tidak akan bisa mencelakaimu, kecuali sebatas apa yang telah ditetapkan oleh Allah untkmu. Pena telah diangkat dan lembaran catatan telah kering.” (h.r. Tirmidzi)
ร˜  Bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya yang tidak terhitung, juga atas karunia dan rahmat-Nya yang tidak terhingga. Bersyukur adalah bagian dari etika yang harus ditunjukkan kepada Dzat yang telah memberi kenikmatan, berbuat baik, dan memberi karunia kepada kita. (an-Nahl: 78), (Yasin: 33-35) dan (Ibrahim: 7)
ร˜  Selalu memohon ampun kepada Allah. Istighfar dapat menghapus kesalahan, memperbaharui tobat dan Iman, dan melahirkan ketenangan serta kedamaian. (an-Nisa’: 110) dan (Ali Imran: 135-136)
ร˜  Selalu merasa diawasi oleh Allah, baik dalam kondisi tersembunyi maupun terang-terangan, dan meresapi makna firman Allah swt., (al-Mujadilah: 7)
















[1] Maksudnya: dalam  kitab-kitab yang telah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum nabi Muhammad s.a.w.
[2] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.